Breaking News

Popular post

Tampilkan postingan dengan label Info kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

KONSEP TIM DALAM KEPERAWATAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

    Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, tanggung jawab dan tanggung gugat. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk menggambarkan  apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan.

Berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukanan oleh Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan padangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.

            American Medical Assosiation (AMA), 1994,  setelah melalui diskusi dan negosiasi yang panjang dalam kesepakatan hubungan professional dokter dan perawat,  mendefinisikan istilah kolaborasi sebagai berikut ; Kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagi nilai-nilai dan saling mengakui dan menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat.

1.2    Rumusan Masalah

Bagaimana konsep kerja tim dalam keperawatan itu?

1.3    Tujuan

Makalah ini di buat untuk memenuhi salah satu tugas keperawatan dasar.

1.4    Manfaat

Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan langsung dalam asuhan keperawatan kepada klien tentang konsep kerja tim dalam keperawatan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Definisi konsep kerja tim.

1. Definisi

            Tim ialah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien (Hunsaker,2001). Kerja tim ialah kerja berkelompok denganketerampilan yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

2. Manfaat Kerja Tim

a.       Kerja tim dapat memberikan manfaat, antara lain:Pekerjaan menjadi lebih ringan karena dilakukan bersama

b.      Dapat menimbulkan semangat kebersamaan.

c.       Lebih efektif dan efisien dibandingkan dikerjakan sendiri

d.      Kinerja organisasi lebih meningkat.

3. Tahapan Pembentukan Tim

Proses pembentukan tim dapat meliputi serangkaian langkah berikut:

a)      Forming: kesadaran akan komitmen bersama untukmembentuk tim dan penerimaan menjadi anggota tim.

b)      Stoming : Muncul badai berupa konflik tentang klarifikasi dan kepemilikan.

c)      Norming : Ada usaha untuk bekerja sama berupa keterlibatan dan dukungan membuat dan mematuhi norma-norma baru.

d)     Performing: Meningkatkan produktivitas kerja berupa targetpencapaian kinerja dan rasa bangga.

e)      Andjouring: Berpisah memberikan pengakuan dan kepuasan(Hunsaker, 2001)

4. Karakteristik Kerja Tim Efektif

Kerja tim efektif memiliki sejumlah ciri berikut:

a. Misi tim jelas

b. Suasana informal

c. Banyak berdiskusi

d. Banyak mendengar (Pendengan yang aktif)

e. Kepercayaan dan keterbukaan

f. Menerima perbedaan pendapat (saling menghargai)

g. Kritis terhadap isu-isu tim TAS, dan tidak bersifat pribadi

h. Konsensus adalah salah satu norma tim TAS

i. Kepemimpinan efektif

j. Jelas dalam penilaian

k. Mengabungkan nilai dan norma

l. Komitmen (Manning & Curtis, 2003).

2.2 Prinsip kerja tim.

            Guna mendukung hal tersebut diperlukan beberapa prinsip untuk kenyamanan tim yang efektif yaitu : memperoleh bakat terbaik dari masing-masing individu ; mendemonstrasi dan mengembangkan kepemimpinan ; merangsang komitmen tim ; memberi inspirasi keamanan dan antusiasme tim ; membangun sikap tim yang kuat ; memberdayakan individu ; supaya menonjol dilingkungan tim ; menciptakan lingkungan tim atas dasar saling percaya dan saling menghormati ; membangun suatu pondasi karakter tim dan individual ; prilaku yang tidak egois dan rela berkorban ; berpikiran terbuka.

            Seperti tentara diajari cara untuk beroperasi dan bekerja sebagai sebuah tim dan cara untuk menyesuaikan diri. Perilaku yang tepat dihargai, sementara perilaku tidak tepat akan dihukum berat. Jadi dengan mengkondisikan mereka agar bergerak, bertindak, dan berperilaku sebagai sebuah tim selama pelatihan, mereka mampu bertindak seperti  juga saat sedang berperang. Pelatihan, disiplin, komunikasi, dan umpan balik yang jelas serta pembatasan, peran yang jelas adalah faktor penting dan diperlukan untuk mencapain sinergi.

            Sebenarnya kerjasama tim yang efektif sering kali merupakan hasil dari disiplin yang ditentukan oleh masing-masing anggota tim. Mereka memastikan bahwa tidak hanya perilaku yang diubah, tetapi setiap anggota memiliki sikap yang tepat untuk mempertahankan kebersamaan dan kepentingan kelompok. Jelasnya perlu waktu untuk melatih sebuah tim. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk melatih sepasukan tentara agar siap berperang. Sama hal nya juga kerjasama tim memerlukan waktu beradaptasi, terampil berkomunikasi,  bergaul, penyesuaian  karakter, membentuk kompetensi, ketegasan, visi dan misi.

2.3 Cara kerja secara tim / kolaborasi.

            Agar dapat membangun sebuah tim yang bagus dan baik, diperlukan lebih dari sekadar mengumpulkan orang-orang yang tepat. Sebab, ujian utama darileadership sebenarnya adalah menciptakan lingkungan dimana setiap individu mau bekerja secara kooperatif dan kolaboratif.

Tips berikut mungkin bisa membantu kita dalam membangun kerja sama tim yang lebih baik. 

1. FOKUS

            Jelaskan rencana jangka panjang organisasi dan lakukan follow-up dengan teratur. Orang-orang sering kali terlalu fokus pada masalah hari ini dan pekerjaan rutinnya, sehingga kehilangan gambaran dari tujuan utama secara keseluruhan. Jadi, sewaktu anggota lainnya sedang berkonsentrasi menyelesaikan masalah, anggota lain dapat mendedikasikan lebih banyak waktunya untuk me-reviewproses dan mengeliminasi masalah-masalah yang mungkin muncul di masa depan.

2. DEFINISIKAN PERAN

            Garis bawahi dengan jelas tanggung jawab dan peran setiap individu dalam suatu tim. Hal ini sangat penting untuk menjamin kesuksesan tim. Pemahaman tim terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing akan sangat membantu dalam pelaksanaan kerja sama tim secara kolaboratif. Dukunglah tim Anda untuk mendefinisikan fungsi mereka. Para anggota tim akan mampu mengambil lebih banyak tanggung jawab apabila mereka berada dalam posisi yang cocok, dan salah satu dari mereka mungkin akan  dapat mengeluarkan bakat baru yang tidak disadari sebelumnya.

3. TETAPKAN TUJUAN

            Anggota tim perlu memperhatikan tujuan individu maupun tujuan tim. Dukunglah mereka untuk menentukan tujuan jangka pendek yang dapat diraih dan dapat diukur, serta tujuan jangka panjang. Dengan tujuan yang jelas dan kode etik atau aturan tertentu, tim akan mulai bisa mengatur dirinya sendiri untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pantauan dari senior sangat dibutuhkan untuk menghilangkan sifat-sifat negatif seperti kemalasan, keterlambatan, serta suka menunda-nunda pekerjaan. Komunikasikan selalu setiap tujuan dengan jelas, dan pastikan setiap anggota tim benar-benar memahaminya.

4. BAGIKAN INFORMASI

            Informasi yang disembunyikan akan dianggap sebagai gosip atau rumor. Produktivitas dan moral tim akan menurun bila mereka menemukan banyak informasi yang tidak jelas berkeliaran, terutama di masa-masa sulit atau peralihan. Bagikan dan sebarkanlah semua informasi yang memang perlu dikomunikasikan ke semua anggota tim, dan jangan lupa untuk terus meng-update informasi tersebut sesering mungkin.

5. KEPERCAYAAN

            Jadilah orang yang dapat dipercaya dan diandalkan. Hargailah kata-kata Anda sendiri. Bila Anda seorang pemimpin dan Anda sudah berjanji untuk memberikan sesuatu kepada anak buah, maka pastikan Anda menepati janji tersebut. Bila Anda salah satu anggota tim dan pernah berjanji untuk melakukan sesuatu kepada tim atau pemimpin Anda, maka pastikan juga Anda menepati janji tersebut. Perlakukan setiap anggota tim dengan perlakuan yang sama. Jangan ada 'anak emas' dan 'orang istimewa'.

6. DENGARKAN

            Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide dari anggota tim lain. Berikan mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam rapat atau saat brainstorming. Pertimbangkan setiap saran mereka. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu saran dan pendapat mana yang terbaik sampai kita sendiri membuktikannya. Banyak organisasi menghabiskan dana besar untuk menyewa konsultan dari luar, tanpa terlebih dahulu menanyakan pendapat pegawai dan anak buahnya sendiri. Padahal, seringkali merekalah yang paling tahu problem apa yang terjadi di dalam. Berikan pujian kepada anggota tim kita dan jadilah seorang pemimpin dan pendengar yang baik.

7. BERSABAR

            Bila tim Anda terlihat bermasalah dan tidak menunjukkan hasil apa pun, bersabarlah. Beri waktu dan amati perkembangannya. Sering kali mereka bisa mengatasi masalahnya sendiri, dan Anda perlu mengawasi dan mengamati saja. Bila hal ini tidak terjadi, maka beraksilah. Pecat dan hire orang lain bila memang diperlukan. Tidak ada gunanya menyimpan 'benalu' di dalam tim.

8. DUKUNGAN

            Setiap anggota tim harus ditantang untuk berkontribusi dalam segala hal. Dorong mereka untuk ikut training bila memang diperlukan dan beri kesempatan untuk keluar dan melakukan sendiri tugas-tugasnya. Mereka perlu merasa nyaman dalam melakukan tugas supaya dapat menemukan potensi unik dalam diri mereka sendiri. Ubahlah tanggung jawab setiap anggota tim bila memang dianggap perlu. Ketahuilah kekuatan dan kelemahan dari setiap anggota tim dan berikan dukungan positif terhadap kedua hal itu.

9. TUNJUKKAN ANTUSIASME

            Antusiasme mudah menular. Selalulah bersikap positif dan penuh harap. Bila mereka melihat Anda mengharapkan sesuatu dari mereka, maka ada peluang mereka akan memberikan yang terbaik dan berusaha tidak mengecewakan Anda. Fokuslah juga pada hal-hal yang dikerjakan dengan benar, dan tidak selalu melihat kesalahan orang lain saja.

10. HAVE FUN

            Bangun semangat yang ada di dalam tim agar bisa selalu memberikan energi yang tinggi dan spirit persatuan. Sediakan waktu untuk tertawa bersama dan ciptakan suasana yang sesantai mungkin. Tidak ada tujuan yang dapat dicapai dengan mudah bila suasananya selalu tegang.

Ilustrasi

11. DELEGASI

            Jelaskan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana caranya (bila diperlukan), lalu biarkan. Lebih baik lagi jika Anda dapat menjelaskan masalah yang ada dan seperti apa hasil yang Anda inginkan. Lalu, biarkan tim Anda mengembangkan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas tersebut sesuai waktu yang telah ditetapkan. Bila jadwal reviewhari Selasa depan, maka jangan menanyakan hasilnya hari ini. Berilah kepercayaan kepada tim Anda untuk memenuhi deadline masing-masing.

12. BERIKAN PENGHARGAAN

            Rayakan keberhasilan bersama-sama dan berikan penghargaan kepada anggota tim tapi tidak secara individual. Dalam setiap tim akan mempunyai individu yang menonjol pada bidang tertentu. Kenalilah hal ini dengan cepat melalui performance review process dan gunakan untuk mendukung kerja sama tim. Hindari semua tindakan yang bisa menimbulkan kecemburuan di antara anggota. Selalu bicara positif tentang anggota tim Anda secara keseluruhan. Promosikan talenta, usaha, dedikasi dan kesuksesan mereka.

            Terakhir, yang penting adalah terus-menerus memberi inspirasi kepada semua anggota tim. Bila Anda berbicara tentang hal apa pun yang berhubungan dengan tim, gunakanlah kata 'kita' dan bukan kata 'saya'.

2.4 Hambatan kerja tim.

Macam-macam hambatan :

a. Hambatan yang Controlable ialah hubungan dimana kita memiliki wewenang dan kekuasaan untuk menghilangkannya, seperti :

§  kurang cukupnya waktu yang dimiliki oleh seorang atasan terhadap bawahannya

§  kurangnya latihan-latihan yang dilaksanakan atau yang diperoleh bawahan

§  kurangnya keinginan atau hasrat dari bawahan untuk berpartisipasi

b.   Hambatan-hambatan yang kita dapat pengaruhi, untuk meniadakannya ialah :

§  atasan yang tidak tahu tentang manajemen peran serta

§  iklim organisasi yang tidak tahu tentang manajemen peran serta

§  atasan yang tidak mau mencari dan menyediakan waktu untuk mempraktekkan manajemen peran serta

c.   Hambatan yang kita dapat mempengaruhi sedikit sekali atau menguasai untuk menghilangkannya. Hambatan-hambatan tersebut berupa :

§  lingkungan eksternal organisasi

§  struktur organisasi

§  reputasi organisasi














BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

            Tim ialah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien (Hunsaker,2001). Kerja tim ialah kerja berkelompok denganketerampilan yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

            prinsip untuk kenyamanan tim yang efektif yaitu : memperoleh bakat terbaik dari masing-masing individu ; mendemonstrasi dan mengembangkan kepemimpinan ; merangsang komitmen tim ; memberi inspirasi keamanan dan antusiasme tim ; membangun sikap tim yang kuat ; memberdayakan individu ; supaya menonjol dilingkungan tim ; menciptakan lingkungan tim atas dasar saling percaya dan saling menghormati ; membangun suatu pondasi karakter tim dan individual ; prilaku yang tidak egois dan rela berkorban ; berpikiran terbuka.

Cara kerja secara tim :

1. FOKUS

2. DEFINISIKAN PERAN

3. TETAPKAN TUJUAN

4. BAGIKAN INFORMASI

5. KEPERCAYAAN

6. DENGARKAN

7. BERSABAR

8. DUKUNGAN

9. TUNJUKKAN ANTUSIASME

10. HAVE FUN

11. DELEGASI

12. BERIKAN PENGHARGAAN

Macam-macam hambatan :

a. Hambatan yang Controlable 

b.   Hambatan-hambatan yang kita dapat pengaruhi

c.   Hambatan yang kita dapat mempengaruhi sedikit sekali atau menguasai untuk menghilangkannya.

3.2 Saran.

            Sebagai mahasiswa keperawatan dan ahli medis tentunya kita harus memahami dan mengaplikasikan langsung dalam tindakan keperawatan hususnya tentang konsep kerja tim dalam keperawatan

Read more ...

Jumat, 28 Februari 2014

Macam-Macam Luka dan Penanganannya


Pengertian Luka
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel



Jenis Luka:

1.   Berdasarkan Tingkat Kontaminasi Luka.

Luka Bersih (Clean Wounds). Yang dimaksud dengan luka bersih adalah luka bedah tak terinfeksi yang mana luka tersebut tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan juga infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi
Luka bersih terkontaminasi (Clean-contamined Wounds). Jenis luka ini adalah luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi.
Luka terkontaminasi (Contamined Wounds) adalah luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna.
Luka kotor atau infeksi (Dirty or Infected Wounds) adalah terdapatnya mikroorganisme pada luka. Dan tentunya kemungkinan terjadinya infeksi pada luka jenis ini akan semakin besar dengan adanya mikroorganisme tersebut.

2.    Berdasarkan Kedalaman Dan Luasnya Luka.

  • Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema). Luka jenis ini adalah luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
  • Stadium II : Luka "Partial Thickness". Luka jenis ini adalah hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti halnya abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
  • Stadium III : Luka "Full Thickness". Luka jenis ini adalah hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Luka ini timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
  • Stadium IV : Luka "Full Thickness". Luka jenis ini adalah luka yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi / kerusakan yang luas.

3.    Berdasarkan Waktu Penyembuhan Luka.


  • Luka Akut. Luka akut adalah jenis luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
  • Luka Kronis. Luka kronis adalah jenis luka yang yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.


MACAM LUKA dan PENANGANANYA

1.   Vulnus excoriasi (Luka lecet)

a)   Pengertian : Jenis luka yang satu ini derajat nyerinya biasanya lebih tinggi dibanding luka robek, mengingat luka jenis ini biasanya terletak di ujung-ujung syaraf nyeri di kulit.
b)  Cara penanganan : Pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan luka terlebih dahulu menggunakan NaCl 0,9%, dan bersiaplah mendengar teriakan pasien, karena jenis luka ini tidak memungkinkan kita melakukan anastesi, namun analgetik boleh diberikan. Setelah bersih, berikan desinfektan. Perawatan jenis luka ini adalah perawatan luka terbuka, namun harus tetap bersih, hindari penggunaan IODINE salep pada luka jenis ini, karena hanya akan menjadi sarang kuman, dan pemberian IODINE juga tidak perlu dilakukan tiap hari, karena akan melukai jaringan yang baru terbentuk.

2.   Vulnus punctum (Luka tusuk)

a)    Pengertian : Luka tusuk biasanya adalah luka akibat logam, nah yang harus diingat maka kita harus curiga adalanya bakteri clostridium tetani dalam logam tersebut.
b)   Cara penanganan : Hal pertama ketika melihat pasien luka tusuk adalah jangan asal menarik benda yang menusuk, karena bisa mengakibatkan perlukaan tempat lain ataupun mengenai pembuluh darah. Bila benda yang menusuk sudah dicabut, maka yang harus kita lakukan adalah membersihkan luka dengan cara menggunakan H2O2, kemudian didesinfktan. Lubang luka ditutup menggunakan kasa, namun dimodifikasi sehingga ada aliran udara yang terjadi.
      
3.   Vulnus contussum (luka kontusiopin)

a)    Pengertian : luka kontusiopin adalah luka memar, tentunya jangan diurut ataupun ditekan-tekan, karena hanya aka mengakibatkan robek pembuluh darah semakin lebar saja.
b)   Cara penanganan : Yang perlu dilakukan adalah kompres dengan air dingin, karena akan mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah, sehingga memampatkan pembuluh-pembuluh darah yang robek.

4.    Vulnus insivum (Luka sayat)

a)    Pengertian : luka sayat adalah jenis luka yang disababkan karena sayatan dari benda tajam, bisa logam maupun kayu dan lain sebgainya. Jenis luka ini biasanya tipis.
b)   Cara penanganan : yang perlu dilakukan adalah membersihkan dan memberikan desinfektan.

5.    Vulnus schlopetorum

a)    Pengertian : jenis luka ini disebabkan karena peluru tembakan, maka harus segera dikeluarkan tembakanya.
b)   Cara penanganan : jangan langsung mengeluarkan pelurunya, namun yang harus dilakukan adalah membersihkan luka dengan H2O2, berikan desinfektan dan tutup luka. Biarkan luka selama setidaknya seminggu baru pasien dibawa ke ruang operasi untuk dikeluarkan pelurunya. Diharapkan dalam waktu seminggu posisi peluru sudah mantap dan tak bergeser karena setidaknya sudah terbentuk jaringan disekitar peluru.

6.    Vulnus combustion (luka bakar)

a)    Pengertian : adalah luka yang disebabkan akibat kontaksi antara kulit dengan zat panas seperti air panas(air memdidih), api, dll.
b)   Cara penanganan : Penanganan paling awal luka ini adalah alirkan dibawah air mengalir, bukan menggunakan odol apalagi minyak tanah. Alirkan dibawah air mengalir untuk perpindahan kalornya. Bila terbentuk bula boleh dipecahkan, perawatan luka jenis ini adalah perawatan luka terbuka dengan tetap menjaga sterilitas mengingat luka jenis ini sangat mudah terinfeksi. Dan ingat kebutuhan cairan pada pasien luka bakar.
        
7.    Luka gigitan.

a)    Pengertian : luka jenis ini disebabkan dari luka gigitan binatang, seperti serangga, ular, dan binatang buas lainya. Kali ini luka gigitan yang dibahas adalah jenis luka gigitan dari ular berbisa yang berbahaya.
b)   Cara penanganan : mengeluarkan racun yang sempat masuk ke dalam tubuh korban dengan menekan sekitar luka sehingga darah yang sudah tercemar sebagian besar dapat dikeluarkan dari luka tersebut. Tidak dianjurkan mengisap tempat gigitan, hal ini dapat membahayakan bagi pengisapnya, apalagi yang memiliki luka walaupun kecil di bagian mukosa mulutnya. Sambil menekan agar racunnya keluar juga dapat dilakukan pembebatan( ikat) pada bagian proksimal dari gigitan, ini bertujuan untuk mencegah semakin tersebarnya racun ke dalam tubuh yang lain. Selanjutnya segera mungkin dibawa ke pusat kesehatan yang lebih maju untuk perawatan lanjut.

8.    Laserasi atau Luka Parut.

a)    Pengertian : Luka parut disebabkan karena benda keras yang merusak permukaan kulit, misalnya karena jatuh saat berlari.
b)   Cara penanganan : Cara mengatasi luka parut, bila ada perdarahan dihentikan terlebih dahulu dengan cara menekan bagian yang mengeluarkan darah dengan kasa steril atau saputangan/kain bersih. Kemudian cuci dan bersihkan sekitar luka dengan air dan sabun. Luka dibersihkan dengan kasa steril atau benda lain yang cukup bersih. Perhatikan pada luka, bila dijumpai benda asing ( kerikil, kayu, atau benda lain ) keluarkan. Bila ternyata luka terlalu dalam, rujuk ke rumah sakit. Setelah bersih dapat diberikan anti-infeksi lokal seperti povidon iodine atau kasa anti-infeksi.

9.    Terpotong atau Teriris

a)    Pengertian : Terpotong adalah bentuk lain dari perlukaan yang disebabkan oleh benda tajam, bentuk lukanya teratur dan dalam, perdarahan cukup banyak, apalagi kalau ada pembuluh darah arteri yang putus terpotong.
b)   Cara penanganan : menangani perdarahan terlebih dahulu yakni dilakukan dengan menekan bagian yang mengeluarkan darah dengan menggunakan kasa steril atau kain yang bersih. Bila ada pembuluh nadi yang ikut terpotong, dan cukup besar, dilakukan pembalutan torniquet. Pembalutan dilakukan dengan menempatkan tali/ikat pinggang/saputangan pada bagian antara luka dan jantung secara melingkar, kemudian dengan menggunakan sepotong kayu/ballpoint tali/ikat pinggang/saputangan tadi diputar sampai lilitannya benar-benar kencang. Tujuan cara ini untuk menghentikan aliran darah yang keluar dari luka. Setelah itu, luka ditutup dan rujuk ke rumah sakit. Pembebatan torniquet dilakukan pada lengan atas atau paha. Pembebatan di tempat lain tidak akan efektif. Pada luka yang teriris dioles anti infeksi kemudian ditutup kasa steril.




PENANGANAN LUKA (secara umum)

Dalam penanganan luka, sudah umum diketahui bahwa salah satu yang harus dilakukan adalah tindakan debridement. Debridement bertujuan untuk membuat luka menjadi bersih sehingga mengurangi kontaminasi pada luka dan mencegah terjadinya infeksi. Debridement bisa dilakukan dengan beberapa cara, dari yang kurang invasif hingga invasif, yaitu debridement secara biologik, mekanik, otolitik, enzimatik, dan surgical.
PROSES PENYEMBUHAN LUKA

1.   Fase Inflamasi

adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan.

2.   Fase Proliferatif
adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.

3.   Fase Maturasi

Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA

  • Usia, Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan
  • Infeksi, Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
  • Hipovolemia, Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
  • Hematoma, Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
  • Benda asing, Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (�Pus�).
  • Iskemia, Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
  • Diabetes, Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
  • Pengobatan, Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera,� Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan, Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
Read more ...

Jumat, 29 November 2013

Asuhan Keperawatan Eklamsia

Asuhan Keperawatan Eklamsia



ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. N DENGAN EKLAMPSIA DI RUANG ICU RSUD xxxxxx
I.      Identitas Pasien
Nama                       : Ny. N                                                                                               
No. MR                   : 1214 52
Umur                       : 21 tahun
Jenis kelamin           : Perempuan
Agama                     : Islam
Tanggal masuk RS  : 13-01-2010    jam : 12. 00 wib
Tanggal pengkajian : 13-01-2010    jam : 12. 30 wib
Diagnosa medis       : Eklampsia
Alamat rumah          : Granan, cangkol 3/9 mojolaban
II.       Identitas Penanggung Jawab
Nama                      : Tn. A
Jenis Kelamin         : Laki- laki
Alamat                   : Pranan, cangkol 3/9 mojolaban
Hub dengan Pasien            : Suami
III.    Riwayat Kesehatan
A.    Alasan Masuk ICU/ ICCU
Klien GIP0A0 dengan eklampsia mengeluh pusing, muntah-muntah  > 5 kali, kemudian tampak gelisah dan riwayat kejang selama di IGD hingga tidak sadarkan diri ( tersedasi).
B.     Keluhan Utama
Klien mengeluh pusing
P: Pusing dirasakan saat aktifitas
Q: Pusingnya cekot-cekot
R: Pusing dikepala
S: Skala 8
T: pusingnya menetap di kepala
C.     Riwayat Kesehatan Sekarang
     Klien sejak pagi mengeluh pusing, kemudian oleh keluarga dibawa ke Bidan . Hasil pemeriksaan di Bidan : TD : 170/90 mmHg. Terdapat pitting edema ektremitas. TFU : 34cm, HPL : 28-01-2010. Aterm G1PoAo, kemudian oleh Bidan dirujuk ke RSUD Sukoharjo dan dibawa ke IGD pada tanggal 13-01-2010. Hasil pemeriksaan yang terdapat di IGD : TD = 170/110 mmHg, S : 36,2 ‘C, N : 109 x/menit, RR : 26 x/menit. Selama di IGD pasien muntah-muntah > 5 kali, kemudian kejang dan gelisah sampai tidak sadarkan diri,selama di IGD klien mendapatkan terapi infus RL 20 tpm, Diasepam 2.5 mg dan O2 3 lpm. lalu pasien dipindah ke ICU. Klien mengeluh kenceng-kencengnya jarang, nyeri di perut muncul saat HIS ada seperti diremas-remas, skala nyeri 5. DJJ 151 x/mnt, HIS 2x10’x30’, pembukaaan 2.Vital sign pada saat di ICU : TD:165/112 mmHg, N : 107 x/menit, S : 36,0 ‘C, RR : 26 x/menit, KU : lemah. Klien terpasang kanul binasal dengan O2 : 3 ltr/menit, kesadaran Composmentis. Klien terpasang DC dengan urine 550 cc. Klien mendapat terapi infus RL 20 tpm, injeksi dexametasone 0,5 mg/ IV, kalmoxilin 1 gr, mgso4 40 % 8 gr (20 cc) / IM, 10 cc di bokong kanan dan 10 cc di bokong kiri.
D.    Riwayat kesehatan Dahulu
Klien mengatakan belum pernah dirawat di RS. Klien mengatakan selalu memeriksakan kehamilannya ke Bidan dan tensinya normal terus. Klien baru mengetahui kalau tensinya tinggi saat akan melahirkan.
E.     Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama dengan klien. Akan tetapi klien dan keluarga mengatakan ada salah satu anggota keluarga yang mempunyai penyakit hipertensi yaitu ibu klien. Klien juga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit asma, TBC, DM, jantung dan penyakit menurun/menular lainnya.
GENOGRAM






 

              Keterangan :
                                      : meninggal
                                      : laki – laki masih hidup
                                      : perempuan masih hidup
                                      : garis perkawinan
                                      : garis keturunan
                                      : tinggal serumah
                                      : klien


 
                                      : punya penyakit hipertensi
IV.  Peungkajian Umum dan Pengkajian Fisik
A.    Kardiovaskuler
TD : 165/112 mmHg
Pemeriksaan jantung
-          Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
-          Palpasi   : Ictus cordis teraba pada intercosta 4-5 sinistra
-          Perkusi   : suara jantung redup
-          Auskultasi : S1 S2 reguler, tidak ada nyeri dada
B.     Respiratory
RR : 26 x/menit, klien mengatakan sesak nafas
-          Inspeksi : bentuk simetris, pengembangan paru kanan dan kiri sama
-          Palpasi   : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan
-          Perkusi   : resonan
-          Auskultasi : tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada wheezing, tidak ada ronchi
C.     Neurologis
GCS : 15 , E: 4, M : 6, V : 5
Suhu : 36,5 ‘C
Keasadaran : composmentis (sadar penuh)
D.    Abdomen
Pemeriksaan Abdomen:
Inspeksi : terdapat striae gravidarum, tampak linea gravidarum
Auskultasi : DJJ: 151 x/menit
HIS: 2 X 10’X30”
Perkusi : tympani
Palpasi: Leopold I : TFU 34 cm, letak bokong
Leopold II: Punggung janin berada dari kanan (puka)
Leopold III : letak kepala
Leopold IV : Konvergen : kepala sudah masuk pintu atas panggul
Klien mengatakan kenceng – kencengnya masih jarang
E.     Nutrisi
IMT : BB/TB2(m) = 60/155 cm 2 = 60/2.4025 = 24.9 (gemuk)
Pola makan / nutrisi
Selama di rumah:
Makan 3-4 kali sehari, dengan nasi, lauk pauk, sayur, minum 8 gelas air putih per hari, tidak ada pantangan makan dan tidak ada alergi makanan tertentu.
Selama di Rumah Sakit: BB: 60 kg. Kapilary refill > 2 detik. TB: 155 cm klien belum makan dan minum saat dilakukan pengkajian.
F.      Muskuloskeletal
Pemeriksaan Ekstremitas
Atas      :  Akral dingin terpasang infus RL ditangan kanan 20 tpm, terdapat pitting odema, kuku bersih. Kekuatan otot bisa bergerak bebas.
Bawah : Akral dingin terdapat pitting odem, kuku tampak bersih, kekuatan otot bisa bergerak bebas.
G.    Cairan
Klien mendapat terapi  infus RL 20 tpm ditangan kanan saat dilakukan pengkajian klien belum minum.
Selama di rumah:
Klien biasanya minum air putih 8 gelas sehari
H.    Genitonuria.
Pemeriksaan Genetalia
Pasien terpasang dower kateter  sekitar 550 cc dengan warna urin kuning jernih, pembukaan 2 cm, STLD( +), ketuban belum pecah, tampak adanya odem di genetalia.
Pemeriksaan Anus:
Tidak ada pembesaran vena, tidak ada hemoroid, anus belum menonjol.
I.       Integumen
Kapilary refill > 2 detik. Akral dingin, tidak keluar keringat dingin. Terdapat linea gravidarum dan strie gravidarum di abdomen, tampak odem pada ekstremitas atas dan bawah serta area genitalia.
Warna kulit kuning kecoklatan, bersih, tidak tampak adanya infeksi pada kulit.
J.       Endokrin.
1.      Pemeriksaan leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Tidak terdapat peningkatan vena jugularis.
2.      Pemeriksaan axilla :
Tidak ada pembesaran kelenjar limfa.
3.      Pemeriksaan fisik lainya :
a.       Kepala : kulit kepala tampak bersih, agak berminyak, warna rambut kecoklatan lurus.
b.      Wajah : Bentuk bulat, tampak sembab, tampak pucat. Ekspresi wajah tampak menahan nyeri.
c.       Mata : simetris kanan dan kiri, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
d.      Hidung : Tidak ada polip, tidak ada secret, terpasang kanul binasal dengan O2 : 3ltr/mnit.
e.       Mulut : mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis, gigi lengkap tidak ada gigi palsu
f.       Lidah : tampak adanya luka bekas kejang sepanjang 0.2 cm
g.      Telinga : keduanya simetris, bersih, tidak ada lesi
h.      Pemeriksaan Payudara :tidak ada luka atau lesi, bentuk simetris, kedua puting menonjol, areola menghitam teraba kencang, tidak ada benjolan, ASI belum keluar,kolostrom belum keluar, tidak ada nyeri tekan.
K.    Pola fungsi kesehatan:.
1.    Pola persepsi dan pemeliharaan  kesehatan.
Sebelum sakit:
Klien mempercayakan kesehatannya pada tenaga kesehatan.
Saat ini:
Klien tahu sekarang berada di RS dan mempercayakan pemeliharaan kesehatannya pada tenaga kesehatan.
2.    Aktifitas dan Latihan.
Sebelum sakit:
Sebelum sakit klien biasa melakukan aktifitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
Selama di RS:
Aktifitas klien terbatas dan semua ADL klien dibantu keluarga dan perawat
ADL
0
1
2
3
4
Keterangan
Makan/ minum
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi
√
√
√
√
√
0 = Mandiri
1 = Dengan alat bantu
2 = Di bantu orang lain
3 = Di bantu orang lain dan alat
4 = Tergantung total
3.    Tidur dan Istirahat
Sebelum Sakit:
Sebelum sakit klien biasa tidur 8 jam perhari dengan tidur siang ± 1 jam dan tidur malam ± 7 jam perhari. Klien mengatakan bisa tidur tidur nyenyak.
Selama di RS:
Saat dilakukan pengkajian klien belum tidur sama sekali.
4.    Eliminasi
Sebelum Sakit:
Sebelum sakit klien biasa BAB 1x/hari kadang 2 hari sekali dengan konsistensi lembek warna kuning. Klien BAK 4-5 x/hari (800 cc/ hari) berwarna kuning jernih.
Selama di RS:
Saat dilakukan pengkajian klien belum BAB, klien terpasang DC dengan jumlah urin 550 berwarna kuning jernih.
5.    Persepsi Diri
Sebelum Sakit:
Klien mengatakan sebagai istri.
Selama di RS:
Klien pasrah dengan kondisinya dan ingin cepat sembuh serta cepat pulang.
6.    Peran dan Hubungan Sosial:
Sebelum Sakit:
Hubungan pasien dengan keluarga dan masyarakat sekitar baik. Klien dapat berinteraksi dengan masyarakat dengan baik.
Selama di RS:
Klien dapat berinteraksi dengan keluarga dan perawat dengan baik.
7.    Seksual dan Reproduksi
Sebelum Sakit:
Klien adalah seorang perempuan yang berusia 21 tahun, belum mempunyai anak, ini adalah kehamilan pertamanya.
HPL : 28-01-2010
HPHT: 21-04-2009
8.    Nilai dan Kepercayaan
Sebelum sakit:
Klien beragama islam selalu menjalankan ibadah sholat 5 waktu
Selama di RS:
Klien hanya berdoa saja
9.    Koping dan Kognitif Perceptual.
Sebelum Sakit:
Klien dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan cara berdiskusi dengan suaminya.
Selama di RS:
Selama klien sakit, klien bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan berdiskusi dengan suami dan orang tua dan mertuanya.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
a.       Hasil pemeriksaan urin tanggal 13-01-2010
Pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Warna
PH
Protein
Reduksi
-          Puasa
-          2 jam pp
-          Sewaktu
      Billirubin
      Sedimen
-          Leukosit
-          Eritrosit
-          Ephitel
-          Silinder
-          Kristal
-          Bakteri
-          Lain-lain
Kuning muda/jernih
7
(+1)/positif satu
(-) negatif
(-) negatif
2-3
3-4
(+1)
(-)
(-)
(-)
(-)
Kuning muda –kuning tua
4,8-7,8
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
4-5 / LPB
0-1  /LBP
Negatif
Negatif
Negatif
b.      Hasil pemeriksaan imunologi tanggal 13-01-2010
Pemeriksaan
Hasil
HbsAg
(-) negatif
c.       Hasil pemeriksaan urine tgl 13-01-2010
1). Makroskopis
 Warna             : kuning
    Kejernihan     : jernih
2).  Sedimen
    Eritrosit          : 0-1 / LPB
  Leukosit           : 0-1 / LPB
  Epitel               : positif
Assay
result
Reference value
Level
Creatinin
Glucose
SGOT
SGPT
Urea
1,00
95,96
30,27
18.94
11,93
0,5 - 0,9 mg/dl
70    - 120 mg/dl
0 - 21 U/L
      0-22 U/I
10 – 50 mg /dl
High
Normal
High
Normal
Normal
d.      Hasil pemeriksaan hematologi tanggal 13-01-2010
Pemeriksaan
Hasil
Satuan
Normal
Hb
Eritrosit
Hemtokrit
Index eritrosit :
MCV
MCH
MCHC
Leukosit
Trombosit
Waktu perdarahan
Waktu pembekuan
Golongan darah ABO
Jenis lekosit :
Netrofil segmen
Limfosit
Monosit
Malaria
filaria
12,8 (-)
4,52 (N)
35
75,9
22,9
37,3
12.700 (+)
37.000
2.00
3.00
B
59
32
10
g/dl
6x10 UL
%
Pf
Pg
%
3x10 UL
3x10 UL
Menit
Menit
%
%
%
Lk :13.0-16, pr : 12.0-1.0
Lk : 4,5-5,5, pr : 4,0-5,0
Lk : 40-48, pr : 37-43
82-92
27-31
32-36
5.0-10
150-400
1-3
1-6
50-70
20-40
2-8
Negatif
negatif
e.       Hasil pemeriksaan EKG tgl 13-01-2010
Normo Sinus Ritme
TERAPI
1.        Tgl 13-10-2010
Terapi injeksi :
Jenis terapi
Keterangan
jam
dexametason 5 mg /12 jam
antihistamin & antiinflamasi
14, 02
kalmoxilin 1 gr /8 jam
Antibiotik
13, 21, 05
MgSO4 40% 8 gr (20 cc) boka/boki
Anti kejang
13
      
NB : - observasi TD/6 jam bila TD naik 160/110 mmHg, ulangi MgSO4 4 gr
-  Jika produksi urin 30 cc/jam ulangi MgSO4 4 gr / 6 jam (10 cc) : jam 16, 22, 04, 10, jam 22, 04 tidak diberikan.
     Terapi O2 :3 ltr/mnit
    
Terapi oral :
Jenis terapi
Keterangan
Jam
misoprostol ¼ tab (50 mg)/ 6 jam
antasida,anti ulcerasi
18, 24, 06 : jam 06 di stop
nifedipine 10 mg /8 jam jika TD > 180/110 mmHg
Anti hipertensi
22
diazepam 5 mg/ml (2 ml)
Sedatif/ anti kejang/ relaxan
K/P
     NB : misoprostol stop bila pembukaan ≥ 4 cm atau his >3x10’ (sublingual)
     Terapi infus : RL 20 tpm
     Terapi gizi : diet rendah garam
     Tgl 13-02-10 jam 19.00 diberikan D5% + piton 5 unit 20 tpm     
2.        Tgl 14-10-2010
Jam 07.00 terapi infus RL 20 tpm, jam 12.15 diberikan terapi  D5% + piton 5 unit drip 8 tpm dinaikkan 4 tpm per 15 menit sampai dengan batas 20 tpm. HIS kuat 4x10x45.
Piton digunakan untuk menaikkan his
Terapi injeksi :
Jenis terapi
Keterangan
jam
dexametason 5 mg/ 12 jam
Anti histamin, anti inflamasi
12, 24
kalmoxilin 1 gr /8 jam
Antibiotik
12, 20, 04
MgSO4 40% (10 cc)/6 jam bila TD>160/100 mmHg (boka/boki)
Anti kejang
10, 16, 22, 04
Terapi O2 3 ltr/mnit
Terapi gizi : Diit rendah garam
3.        Tgl 15-10-2010
Terapi infus RL 20 tpm
Terapi gizi : diet rendah garam
Terapi injeksi :
Jenis terapi
Keterangan
jam
dexametason 5 mg/12 jam
Anti histamin, anti alergi
12, 24
kalmoxilin 1 gr/8 jam
Antibiotik
12, 20, 04
Terapi obat oral
Jenis terapi
Keterangan
jam
nifedipine 10 mg/8 jam jika TD > 180 /110 mmHg
Anti hipertensi
08
Data Fokus:
DS: klien mengeluh pusing
 P: Pusing dirasakan saat beraktifitas
 Q: Pusingnya cekot-cekot
 R: Pusingnya di kepala
 S: Skala 8
 T: Pusing menetap di kepala
 Klien mengatakan sesak nafas
 Klien mengatakan kenceng- kencengnya masih jarang, nyeri di perut muncul saat HIS ada seperti diremas-remas, skala nyeri 5.
DO: TD: 165/112 mmHg
N  : 107 x/menit
RR: 26 x/menit
DJJ: 151x/menit
His : 2x 10’x30 ‘’
Palpasi pada bdomen :
Leopold I :TFU: 34 cm, letak bokong.
Leopold II: Punggung janin berada dikanan (puka).
Leopold III: Letak kepala
Leopold IV: Konvergen: kepala sudah masuk PAP (pintu atas panggul)
Turgor kulit / kapilary refill >2 detik
Akral dingin, tidak terdapat peningkatan vena jugularis.
Terpasang infus RL ditangan kanan 20 tpm.
Terdapat pitting odem.
Klien terpasang Dc dengan urin 550 cc. Berwarna kuning jernih.
Pembukaan 2 cm STLD  (+), ketuban /amnion (+)
Tampak odema pada ekstermitas atas dan bawah serta area genitalia
Wajah tamapak sembab dan pucat. Ekspresi wajah tampak menahan nyeri
Terpasang kanul O2 3 L dengan kanul binasal
Ku: Lemah
Lidah: tampak adanya luka bekas kejang sepanjang 0,2 cm
Aktifitas klien terbatas dan semua ADL dibantu oleh keluarga  dan perawat selama di RS.
Hasil pemeriksaan urin:
Protein                  +1
Leukosit               2-3
Eritrosit                3-4
Epithel                  +1
Creatinin              1,00
SGOT                   30-27
Hematologi:
MCV                    75,9
MCH                    22,9
MCHC                 37,3
Leukosit               12,700
Trombosit             37000
Read more ...
Designed By